Minggu, 06 Juni 2010

Kecolongan

Malam itu aku sedang menunggu kereta api di kursi tempat penungguan kereta di stasiun Lempuyangan, Jogja. Aku hendak pulang kampung setelah berbulan lamanya sibuk kuliah.
Karena waktu kedatangan masih lama, sekitar satu jam, sembari menunggu aku bermain HP. Tiba-tiba seorang pedagang asongan menawariku koran. Ah, daripada smsan tak jelas, aku berfikir mending baca koran. Wawasan jadi bertambah, gak ketinggalan informasi. Aku pun membeli koran itu, lagipula harganya tak mahal mahal amat. Perhatianku pun beralih dari HP ke koran, sementara HPku aku simpan di saku jaket ku.
Aku mulai membuka koran itu. Berita demi berita ku baca, hingga satu berita yang agak unik. Tentang penjambretan dengan cara yang baru. Ceritanya si penjambret yang menaiki sepeda motor menghampiri korban dan meminjam HP untuk mengirim sms, karena pulsa HP miliknya habis. Dan pelaku langsung kabur ketika korban menyerahkan HP nya. Ada-ada aja.
Aku tersenyum, ada gunanya juga aku beli koran ini. Setidaknya aku sudah tahu strategi penjambretan yang baru itu, jadi bisa lebih hati-hati menjaga harta milik sendiri. Biar gak dicopet apalagi dijambret.
Akhirnya aku pun selesai membaca koran itu dan berfikir untuk kembali berHP ria. Sms terakhir temanku belum sempat di balas. Tapi... hah, dimana HPku..?? Tadi kumasukkan saku. Aku memeriksa seluruh kantong bajuku, isi tasku.. hasilnya nihil.
Jangan-jangan... Innalillahi.. Astaghfirullah.., aku kecolongan.!!
Aku pun lunglai. Mungkin ini strategi pencopetan yang paling baru..
(Peringatan: Jangan lupakan HP ketika baca koran di tempat umum..!!)

Sabtu, 05 Juni 2010

KEKUATAN TERAKHIR


Sebuah senapan laras panjang berwarna hitam gelap aku temukan dari reruntuhan sebuah rumah. Aku tak tahu ini pertanda apa. Yang jelas sekarang aku dan teman-temanku harus berbuat sesuatu dengan benda ini. Aku sama sekali tak pernah rela mereka mengambil dengan serta merta keluargaku. Dan seperti nasib temanku yang lainnya, mereka mengharuskanku untuk tidak menempati rumahku lagi. Ya, semuanya sudah luluh lantak. Sekolah, rumah sakit, masjid, dan rumah-rumah. Beserta ummi, abi dan Syifa adikku di dalamnya, syurgaku hancur dua hari yang lalu akibat serangan roket zionis laknat itu. Aku sedang tiada di rumah kala itu. Tapi itu sungguh tak kusebut sebagai sebuah keberuntungan. Keberuntungan yang mana yang membuat seseorang tak bisa lagi merasakan nikmatnya kebersamaan beserta orang-orang yang sangat disayanginya. Selamanya.

Israel. Kata itu sungguh aku muak mendengarnya. Mendengarnya membuatku tak bisa menahan hasrat untuk segera melumatkannya. Penjajah yang haus darah kekuasaan. Yang merasa sayang melewatkan waktu tanpa mendzalimi kami. Semua tahu itu. Tapi semangat kami bukanlah sebongkah salju yang lantas mencair kala panas merongrong tubuhnya. Dan perlu kau tahu semangat perjuangan kami meraih keadilan melebihi kokohnya bukit Sinai. Ya, kami warga Palestina tidak serendah yang mereka bayangkan.

Terlebih aku. Dengan tanganku sendiri kuharap bisa mencicil rasa dendam yang aku tahu, itu takkan habis. Tekadku sungguh bulat. Walau sekadar satu dua serdadu, aku berangan bisa membalas kekejian mereka.

"Aku yakin benda itu milik anggota militan Hamas. Yang aku tahu ini adalah rumah Sulaiman Muntazer. Salah satu anggota Hamas. Ya, dia beserta kedua anaknya tewas akibat roket Israel semalam!" Saleem terus mengoceh. Sekedar memberi penjelasan tentang benda asing yang aku temukan. Sebenarnya tak perlu dijelaskan.

"Aku tahu, Saleem. Dan sepertinya senapan ini masih baru dan bisa kita gunakan. Coba kamu cek!" senapan yang tak terlalu berat itu segera kuserahkan pada Saleem. Aku yang masih umur dua belas sungguh tak mengerti tentang persenjataan macam itu. Dan kuharap Saleem menguasainya.

"Ya, kau benar Zaed. Pelurunya masih utuh. Dan kulihat senapan ini tak mengalami kerusakan selain debu-debu yang membuat warnanya tak lagi mengilap." Saleem menyunggingkan senyumnya ke arahku. Senyum pengharapan.

"Lalu, apakah…."

"ISRAEL DATANG!! SIAPKAN SENJATA!!!" tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkan kami. Menggantungkan kalimatku. Kulihat beberapa pemuda memunguti batu-batu kecil dan bersicepat mereka menyembunyikan tubuh mereka di balik dinding reruntuhan.

"Kita belum bisa menggunakannya saat ini, Zaed. Cepat sembunyikan barang itu di balik bajumu, dan pulanglah! Kita bisa mengaturnya esok hari! Aku akan menyerang para cecunguk itu sekarang!" Aku mengerti. Saleem sama sepertiku, belum tahu caranya. Demi menyelamatkan benda itu aku segera meninggalkan Saleem yang tengah sibuk mengumpulkan serpihan batu dari gunungan reruntuhan itu. Bukan keberanianku yang ciut, tapi ini menyangkut nasib kami yang masih di ujung tanduk.

"ALLAAAHU AKBAR!!!" aku sempat melihat sebuah artileri bengis dihujani puluhan batu dari tangan para pemuda itu, sebelum aku beringsut cepat.

***

"Apakah aku bisa menggunakannya, Paman?" pertanyaanku membuat paman Syayyaf sedikit meringis. Luka di bahu kirinya belum sembuh benar. Ia lalu meletakkan Al-Qur'an mungilnya dari genggamannya. Wajahnya menyiratkan keraguan.

"Paman bukannya takut, Nak! Andai saja paman sehat, paman sendiri yang akan membantai mereka. Paman mengerti kekesalanmu itu. Tapi… Uhkk.!!! Kamu harus hati-hati. Menggenggamnya di tanganmu adalah antara hidup dan mati. Sebisa mungkin kamu harus sudah dapat melumpuhkan mereka sebelum mereka menghancurkan jantungmu." Paman menatapku nanar.

"Aku mampu melakukannya, paman. Melihat cara paman menggunakannya tadi, aku bisa mempraktikkannya langsung di hadapan mereka. Aku akan membuatmu bahagia. Juga abi dan ummi!" Perlahan perkataanku dapat memudarkan keraguan paman.

"Paman tahu itu. Tapi ingat, Nak. Kita berjuang demi agama dan bangsa kita. Berjuanglah atas nama Allah. Perangilah mereka yang memerangi Allah, niscaya darahmu mewangi meski mereka meremukkan tulang-tulangmu sekalipun. Janji Allah itu nyata. Surgalah jaminannya…" Suara paman tertahan. Paman menangis. Seperti saat istri tercintanya wafat seminggu yang lalu. Disusul putri semata wayangnya selang sehari kemudian. Suasana terasa begitu hening. Di barak pengungsian yang marak ini, sepertinya aku hanya bisa mendengar sedu-sedan paman. Ah, Israel! Aku takkan membiarkanmu terus berlagak menjadi Izrail bagi kami. Aku-lah yang akan menjadi Izrailmu! Camkan itu!

***

Kudapati berita memilukan. Saleem beserta lima temanku yang lainnya syahid saat berintifadha kemarin petang. Aku tidak menangis. Bukan tak sedih. Airmataku sudah kering. Tapi aku berharap akan syahid pula seperti mereka. Tentunya dengan mengirimkan serdadu-serdadu itu ke neraka yang paling dalam. Ya, engkau telah mengobarkan semangatku untuk itu, kawan! Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk mewujudkannya.

Hari ini tepat hari kelima agresi Israel jalur darat. Setelah sepekan lebih pesawat-pesawatnya meratakan pemukiman kami dengan kiriman rudal-rudal dan roket missil-nya dari udara. Dan enam ratusan nyawa orang-orang tanpa dosa melayang tanpa perlawanan yang berarti. Jumlah itu tak akan bertambah jikalau binatang-binatang itu masih memiliki secuil nurani dalam dirinya. Sempat kubaca berita dari sebuah surat kabar Gaza.

"Kami akan terus melancarkan agresi ini sampai melumpuhkan kekuatan Hamas. Bukan salah kami jika nyatanya banyak warga sipil yang menjadi korban. Hamas-lah yang bersembunyi di pemukiman mereka. Di belakang punggung anak-anak sekolah!" Livni Laknatullah menyampaikan pernyataannya. Sebuah dalih yang benar-benar tak logis. Orang yang tak waras tentu akan membenarkan perkataan itu. Dimana kau simpan otak dan hatimu selama ini, kalau kau memang memiliki keduanya?! Bilang saja kalau kau ingin memusnahkan kami hingga tempat ini bisa kau duduki. Apapun caranya, secanggih apapun jalannya, kau takkan bisa mendapatkan hak itu. Karena ini tempat kami. Takkan kami biarkan kau mengusik ketenangan kami disini.

Jika itu aku lihat dari televisi, aku pastikan wanita jalang itu dengan wajah angkuhnya membanggakan kekuatan negeri yang enampuluh tahun silam tak ada di muka bumi ini. Keangkuhan yang telah menyumpal matanya untuk sekadar melirik gelimpang mayat 'hasil karya'nya di sini. Terus berceloteh dengan senyum keyakinan bahwa Gaza beserta Hamas akan takluk di ujung kaki-nya. Sesumbar itukah kau mengatakannya, wahai calon bahan bakar Jahanam? Tak tahukah engkau bahwa kami tidak sendiri? Kami tidak gentar dengan rudal, jet, tank, senapan, dan semua kekuatan syaitanmu. Ada Allah yang akan menurunkan ratusan bahkan ribuan malaikatNya untuk memihak kami! Kami punya Allah!! Kelak kami akan membuat kalian tak berdaya, dan aku turut turun tangan melakukannya. Dengan benda ini. Senapan ini. Ah, aku tak sabar menunggu hari esok. Aku telah merencanakannya. Aku tak mau semua rencanaku, usahaku, latihanku berujung kesia-siaan.

***

Sebuah hari yang seharusnya indah, karena aku akan merasakan kemenangan di dalamnya. Sebuah hari yang kurencanakan berjalan dengan elu-elu kejayaan orang-orang yang terdzalimi. Ini hari yang semestinya aku bisa membunuh utusan iblis itu. Aku sungguh tak bisa mengampuni mereka. Semuanya di ambil. Diseret. Dengan paksa. Israel melancarkan operasi darat dan kali ini mereka turun langsung ke pengungsian kami. Mencari para pejuang Hamas, dalihnya. Aku melihat betapa manusia bisa memiliki kekejaman melebihi binatang. Seorang paruh-baya tanpa basa basi ditarik dari pembaringannya, dipukul, ditendang, diludahi. Kekejian yang tak lazim disaksikan oleh seusiaku. Dan aku berontak, ingin kuhentikan perlakuan itu. Aku tak rela mereka melakukan itu kepadanya, dia pamanku! Tangan-tangan ini. Jangan menghalangiku! Kau tak tahu betapa aku letih merasakan ini! Aku ingin membalasnya. Nyaliku nyaris runtuh saat kudapati dia, keparat itu, membawa serta senapan yang kutemukan, yang belum sempat kuambil dari balik tikar itu. Aku terlambat. Mereka terlalu kuat. Mereka berhasil mengobrak-abrik tempat kami, sebagaimana ia mengobrak-abrik harga diri kami. Mereka terbahak saat memoncongkan senjata itu ke arah kami. Tak ada yang bisa kulakukan selain kuhardik mereka dengan suaraku yang mulai serak.

"Pamaaaan!! Jangan kau ambil pamanku! Tak puaskah engkau telah mengambil seluruh penjagaku?! Jangan kau ambil pula yang tersisa dari keberingasanmu!!" Uh, kalimat terakhir itu kulontarkan tanpa siapapun yang bisa mendengarnya. Pita suaraku kering, tak bersuara. Kurasakan energiku luruh. Aku limbung.

***

"SERAAAAAAANG!!!!"

"ALLLAAAAAAAHU AKBARRR!!!"

Aku akan melakukannya! Biarlah tak kugenggam senjata baja itu. Aku masih punya yang lain, peluru yang kudapatkan langsung dari bumi Allah. Batu-batu ini. Aku akan melawannya dengan batu-batu ini. Lambang kekuatan Palestina. Kelak batu-batu ini menjadi saksi semangat perjuangan kami yang tak kan luntur.

Kedua tanganku telah kupenuhi dengan batu-batu. Bismillah! Rasakan ini zionis laknatt!! Aku melangkah maju beberapa meter melebihi pemuda lain. Dan satu persatu kulempar mereka, tentara yang sok itu, dengan batuku. Tak kusangka, semuanya tepat sasaran! Aku dapat melihat satu, dua, tiga dari tentara itu mengerang, menjerit, terhuyung. Akhirnya aku dapat mencicipi kemenangan yang sekian lama teridam.

AKU MENAAANG. RASAKAN ITU PENJAHAT! HAHAHAHAHAAAAA..!!!! KAU KALAAAAAH!! AKU MENAAAAANG!!! HOREEEEEEEE!!!

Sesaat setelah kemenangan itu, aku membuka mataku yang sempat terpejam. Dan… tentara itu, tank itu, para mujahid Palestina, semuanya lenyap. Aku dapatkan suasana yang sama sekali berbeda. Ada tiga orang anak seusiaku. Kulihat mereka menangis tepat di hadapanku. Mengerang dengan lumuran darah di kepalanya. Kerikil kecil berserakan di lantai. Kudengar tawa, sorak sorai, teriakan, tepukan tangan, hingga hujatan dari anak-anak lain di sekelilingku. Kemudian dua orang wanita serba putih menarik lenganku. Wajahnya sendu dan aku tak bisa membaca gerak bibir mereka yang sepertinya mengatakan sesuatu. Mereka memaksaku meninggalkan anak-anak dan suara yang semakin bergemuruh itu. Aku diseret ke sebuah kamar yang gelap dan agak pengap. Ke sebuah ranjang yang sama sekali tak empuk. Di samping seorang bocah yang tengah terlelap. Dan aku berusaha berontak sekuat tenaga. Aku tak bisa membiarkannya. Aku harus melanjutkan perlawananku melawan Israel. Namun sia-sia. Semakin kuberontak, tangan itu semakin kuat mencengkeram lengan dan kakiku. Kepalaku berdenyut hebat. Pikiranku kacau balau.

Aku tak percaya ini…

"UMMI… ABI… PAMAAN….!!! AAARGH… LEPASKAN AKU..!!! AKU TIDAK GILAAAAA!!!!"

***

Bayongbong, 09 Januari 2009

Untuk ketabahan warga Palestina, kalian tidak sendiri!


Menurutmu apa hukuman yang pantas diberikan kepada israel?

Followers

Chat