
Sebuah senapan laras panjang berwarna hitam gelap aku temukan dari reruntuhan sebuah rumah. Aku tak tahu ini pertanda apa. Yang jelas sekarang aku dan teman-temanku harus berbuat sesuatu dengan benda ini. Aku sama sekali tak pernah rela mereka mengambil dengan serta merta keluargaku. Dan seperti nasib temanku yang lainnya, mereka mengharuskanku untuk tidak menempati rumahku lagi. Ya, semuanya sudah luluh lantak. Sekolah, rumah sakit, masjid, dan rumah-rumah. Beserta ummi, abi dan Syifa adikku di dalamnya, syurgaku hancur dua hari yang lalu akibat serangan roket zionis laknat itu. Aku sedang tiada di rumah kala itu. Tapi itu sungguh tak kusebut sebagai sebuah keberuntungan. Keberuntungan yang mana yang membuat seseorang tak bisa lagi merasakan nikmatnya kebersamaan beserta orang-orang yang sangat disayanginya. Selamanya.
Terlebih aku. Dengan tanganku sendiri kuharap bisa mencicil rasa dendam yang aku tahu, itu takkan habis. Tekadku sungguh bulat. Walau sekadar satu dua serdadu, aku berangan bisa membalas kekejian mereka.
"Aku yakin benda itu milik anggota militan Hamas. Yang aku tahu ini adalah rumah Sulaiman Muntazer. Salah satu anggota Hamas. Ya, dia beserta kedua anaknya tewas akibat roket
"Aku tahu, Saleem. Dan sepertinya senapan ini masih baru dan bisa kita gunakan. Coba kamu cek!" senapan yang tak terlalu berat itu segera kuserahkan pada Saleem. Aku yang masih umur dua belas sungguh tak mengerti tentang persenjataan macam itu. Dan kuharap Saleem menguasainya.
"Ya, kau benar Zaed. Pelurunya masih utuh. Dan kulihat senapan ini tak mengalami kerusakan selain debu-debu yang membuat warnanya tak lagi mengilap." Saleem menyunggingkan senyumnya ke arahku. Senyum pengharapan.
"Lalu, apakah…."
"
"Kita belum bisa menggunakannya saat ini, Zaed. Cepat sembunyikan barang itu di balik bajumu, dan pulanglah! Kita bisa mengaturnya esok hari! Aku akan menyerang para cecunguk itu sekarang!" Aku mengerti. Saleem sama sepertiku, belum tahu caranya. Demi menyelamatkan benda itu aku segera meninggalkan Saleem yang tengah sibuk mengumpulkan serpihan batu dari gunungan reruntuhan itu. Bukan keberanianku yang ciut, tapi ini menyangkut nasib kami yang masih di ujung tanduk.
"ALLAAAHU AKBAR!!!" aku sempat melihat sebuah artileri bengis dihujani puluhan batu dari tangan para pemuda itu, sebelum aku beringsut cepat.
***
"Apakah aku bisa menggunakannya, Paman?" pertanyaanku membuat paman Syayyaf sedikit meringis. Luka di bahu kirinya belum sembuh benar. Ia lalu meletakkan Al-Qur'an mungilnya dari genggamannya. Wajahnya menyiratkan keraguan.
"Paman bukannya takut, Nak! Andai saja paman sehat, paman sendiri yang akan membantai mereka. Paman mengerti kekesalanmu itu. Tapi… Uhkk.!!! Kamu harus hati-hati. Menggenggamnya di tanganmu adalah antara hidup dan mati. Sebisa mungkin kamu harus sudah dapat melumpuhkan mereka sebelum mereka menghancurkan jantungmu." Paman menatapku nanar.
"Aku mampu melakukannya, paman. Melihat cara paman menggunakannya tadi, aku bisa mempraktikkannya langsung di hadapan mereka. Aku akan membuatmu bahagia. Juga abi dan ummi!" Perlahan perkataanku dapat memudarkan keraguan paman.
"Paman tahu itu. Tapi ingat, Nak. Kita berjuang demi agama dan bangsa kita. Berjuanglah atas nama Allah. Perangilah mereka yang memerangi Allah, niscaya darahmu mewangi meski mereka meremukkan tulang-tulangmu sekalipun. Janji Allah itu nyata. Surgalah jaminannya…" Suara paman tertahan. Paman menangis. Seperti saat istri tercintanya wafat seminggu yang lalu. Disusul putri semata wayangnya selang sehari kemudian. Suasana terasa begitu hening. Di barak pengungsian yang marak ini, sepertinya aku hanya bisa mendengar sedu-sedan paman. Ah,
***
Kudapati berita memilukan. Saleem beserta
Hari ini tepat hari kelima agresi
"Kami akan terus melancarkan agresi ini sampai melumpuhkan kekuatan Hamas. Bukan salah kami jika nyatanya banyak warga sipil yang menjadi korban. Hamas-lah yang bersembunyi di pemukiman mereka. Di belakang punggung anak-anak sekolah!" Livni Laknatullah menyampaikan pernyataannya. Sebuah dalih yang benar-benar tak logis. Orang yang tak waras tentu akan membenarkan perkataan itu. Dimana kau simpan otak dan hatimu selama ini, kalau kau memang memiliki keduanya?! Bilang saja kalau kau ingin memusnahkan kami hingga tempat ini bisa kau duduki. Apapun caranya, secanggih apapun jalannya, kau takkan bisa mendapatkan hak itu. Karena ini tempat kami. Takkan kami biarkan kau mengusik ketenangan kami disini.
Jika itu aku lihat dari televisi, aku pastikan wanita jalang itu dengan wajah angkuhnya membanggakan kekuatan negeri yang enampuluh tahun silam tak ada di muka bumi ini. Keangkuhan yang telah menyumpal matanya untuk sekadar melirik gelimpang mayat 'hasil karya'nya di sini. Terus berceloteh dengan senyum keyakinan bahwa
***
Sebuah hari yang seharusnya indah, karena aku akan merasakan kemenangan di dalamnya. Sebuah hari yang kurencanakan berjalan dengan elu-elu kejayaan orang-orang yang terdzalimi. Ini hari yang semestinya aku bisa membunuh utusan iblis itu. Aku sungguh tak bisa mengampuni mereka. Semuanya di ambil. Diseret. Dengan paksa.
"Pamaaaan!! Jangan kau ambil pamanku! Tak puaskah engkau telah mengambil seluruh penjagaku?! Jangan kau ambil pula yang tersisa dari keberingasanmu!!" Uh, kalimat terakhir itu kulontarkan tanpa siapapun yang bisa mendengarnya. Pita suaraku kering, tak bersuara. Kurasakan energiku luruh. Aku limbung.
***
"SERAAAAAAANG!!!!"
"ALLLAAAAAAAHU AKBARRR!!!"
Aku akan melakukannya! Biarlah tak kugenggam senjata baja itu. Aku masih punya yang lain, peluru yang kudapatkan langsung dari bumi Allah. Batu-batu ini. Aku akan melawannya dengan batu-batu ini. Lambang kekuatan Palestina. Kelak batu-batu ini menjadi saksi semangat perjuangan kami yang tak
Kedua tanganku telah kupenuhi dengan batu-batu. Bismillah! Rasakan ini zionis laknatt!! Aku melangkah maju beberapa meter melebihi pemuda lain. Dan satu persatu kulempar mereka, tentara yang sok itu, dengan batuku. Tak kusangka, semuanya tepat sasaran! Aku dapat melihat satu, dua, tiga dari tentara itu mengerang, menjerit, terhuyung. Akhirnya aku dapat mencicipi kemenangan yang sekian lama teridam.
AKU MENAAANG. RASAKAN ITU PENJAHAT! HAHAHAHAHAAAAA..!!!! KAU KALAAAAAH!! AKU MENAAAAANG!!! HOREEEEEEEE!!!
Sesaat setelah kemenangan itu, aku membuka mataku yang sempat terpejam. Dan… tentara itu, tank itu, para mujahid Palestina, semuanya lenyap. Aku dapatkan suasana yang sama sekali berbeda.
Aku tak percaya ini…
"UMMI… ABI… PAMAAN….!!! AAARGH… LEPASKAN AKU..!!! AKU TIDAK GILAAAAA!!!!"
***
Bayongbong, 09 Januari 2009
Untuk ketabahan warga Palestina, kalian tidak sendiri!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar